.
RSS

Here I am


Lama tidak berjumpa di blog curhatan ketika remaja dan usia muda
Membaca tulisa lama serasa nostalgia, masa muda yang indah dan berwarna :)
Semoga masih ada kesempatan untuk menulis dan berbagi ceita, walau entah apa
See ya...





 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Seminggu Berkesan Menjadi Pembina Sentra

14 Maret 2015

Pembina Sentra di Bank BTPN Syariah, pekerjaan yang baru saya jalani seminggu. Awalnya saya mau mengambil pekerjaan ini karena ada sifat sosial dari program yang akan saya jalankan selama menjadi Pembina Sentra tersebut. Ya yang ternyata sangat luar biasa dan di luar dugaan, tidak hanya sekedar sosial dan humanisme yang dapat saya dapatkan, banyak pengalaman berharga yang saya peroleh dari pekerjaan ini. Saya bisa mengenal kehidupan di daerah transmigrasi dan kehidupan masyarakat pra sejahtera yang jauh di pelosok daerah. Candipuro, Lampung Selatan, di tempat inilah saya ditempatkan. Desa yang pernah mengalami konflik antar suku pada beberapa tahun yang lalu, sempat takut memang untuk ditempatkan di sini. Candipuro,  memang di daerah ini adalah salah satu daerah yang penduduknya merupakan transmigran dari seluruh pelosok Indonesia, seperti dari suku Jawa, Sunda, Ngapak, Bali, dan suku lainnya, serta suku asli penduduknya, Lampung. Dari sini saya mengerti kenapa konflik semacam ini bisa terjadi, tapi memang baiknya kita bersatu ya, hehe ya sudahlah mari beralih ke cerita lainnya. Candipuro, actually it’s very nice place, lingkungannya terlihat ramah, terhampar area persawahan yang hijau dan masyarakatnya sangat ramah.




Yuk yuk balik lagi ke Pembina Sentra lagi, sebagai seorang Pembina Sentra (PS) kita bertugas untuk menyalurkan modal dari bank kepada masyarakat yang memilki usaha agar usaha yang mereka jalankan semakin berkembang dan dapat menyejaherakan keluarganya dan dengan tanpa jaminan. Oh ya, PS untuk saat ini hanya diperuntukkan bagi wanita, karena nasabah atau peminjam modalnya adalah ibu ibu, tidak diperuntuknnya untuk bapak bapak, sehingga agar komunikasi antara PS dan nasabah (ibu ibu) akan berjalan dengan nyaman. Program ini sangat bagus menurut saya, karena ibu ibu dapat meminjam modal tanpa memberikan jaminan (seperti sertifikat tanah) kepada bank, cukup dengan fotokopi KK dan KTP saja. Serta modal dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Hari gini gitu lho, kan cari modal susah ya bu ya, apalagi memberi modal ke masayarakat prasejahtera di daerah pelosok, siapa toh yang mau kasih? Lah wong ya pemerintah aja belum nyentuh mereka. Lah wong ya saya pernah liat di TV ada isu harusnya Bank Ind*nesia itu diharapkan bisa memberi modal kepada masyarakat pr sejahtera ini. Yeah, I know I don’t have authority to say something like this. But I hope someday government would take this responsibility to take direct actions, karena seharusnya lebih baik dihandle pemerintah toh ya, biar masyarakat lebih merasa nyaman dan diayomi. Yah yah balik ke tempat saya, program yang kami disebut dengan Program Masa Depan. Oh ya balik lagi, jadi kami sebagai petugas akan mencari peminjam modal yang minimal harus membentuk kelompok berisi 6 peminjam modal, lalu kami akan membina mereka untuk mengelola keuangannya dengan memberikan pelatihan terlebih dahulu, lalu setelah itu kami akan mengadakan pertemuan rutin setiap 2 minggu sekali untuk menagih angsurannya selama 1 tahun. Penagihan ini akan dilakukan dengan kesepakatan bersama mengenai waktu dan tempatnya, penagihan juga dilakukan dengan cara ibu-ibu berkumpul terlebih dahulu di satu tempat, lalu petugas akan menghampiri mereka. Setiap kelompok minimal 6 orang ini disebut dengan Sentra yang dipimpin oleh seorang ibu ketua sentranya.

Nah sebenarnya bukan tugas PS ini yang saya ingin ceritakan, tapi kesan kesan selama penjadi PS itu yang ingin saya ceritakan. Namun sebagai pengantar, ya tadi saya ceritakan sedikit dulu mengenai tugas PS itu. Nah berikut ini pengalaman yang sangat berkesan yang saya dapatkan selama menjadi PS, ada positif adapun yang negatif. Tapi saya lebih mengambil yang positif, karena tidak akan lagi bisa saya dapatkan pengalaman seperti ini, pengalaman yang akan sangat menginspirasi hidup saya :’)
·        
Pelajaran mengenai semangat juang tinggi, pantang menyerah, berani ambil risiko, dan berfikir positif
Masyarakat di sini memang boleh jadi hanya petani, buruh perkebunan, mitra perusahaan, pedagang di pasar, pedagang sembako, atau yang lainnya, pekerjaan yang kita anggap tidak seberapa. Tapi asal kalian tau, mereka memiliki semangat yang sangat tinggi untuk menyejahterakan keluarganya. Tidak peduli seberapa keras dan jauh mereka bekerja atau menjual hasil kerjanya, tapi mereka sungguh pantang menyerah. Mari saya ceritakan beberapa cerita perjuangan berbuah manis para masyarakat sederhana, ramah, pejuang dan pantang menyerah di sini.

  • Seorang  ibu, istri seorang petani yang berpenghasilan hanya di saat panen, ibu ini tidak mau hanya berpangku tangan dari penghasilan suaminya. Akhirnya ia pun membuka warung kecil kecilan dirumahnya, namun terkendala modal. Tapi akhirnya kami dapat membantu. Dari usaha dan hasil bertani, kini mereka hidup berkecukupan. Lihat apa yang bisa mereka beli dari hasil usahanya :)

  • Seorang ibu yang keluar dari pekerjaannya menjadi buruh di suatu perusahaan dengan gaji 2 juta yang terbilang lumayan. Sekarang ia hanya bekerja dari rumah demi mengurus anak anaknya dan menambah penghailan suaminya, ia berjualan/menerima pesanan kue. Karena ia giat, selalu berfikir positif, dan pantang menyerah, kini jualannya sangat dikenal. Kue nya sering dipesan untuk acara sekolah, acara kecamatan, pesta, acara perusahaan sekitar. Namun ia terkendala modal yang pas-pasan jika ada pesanan dalam jumlah besar. Tapi ia pantang menyerah dan tetap berusaha, sungguh luar biasa.
  • Seorang ibu penjual ikan yang usahanya semakin berkembang karena keberaniannya mengambil risiko dan tidak mudak putus asa, ia bisa memperoleh keuntungan 200rb setiap harinya dari berdagang ikan.
  • Seorang ibu yang membantu suaminya beternak ayam di belakang rumah yang perhasiannya pun terbilang besar saat ayam dapat dipanen setiap 1 bulan. Dengan kemauan si bapak untuk belajar beternak sejak beberapa tahun yang lalu, kini berbuah manis. Keluarga ini sempat beberapa kali ditawari menjadi mitra perusahaan peternakan, namun mereka menolak dan memilih untuk mandiri.
  •  Dan masih banyak cerita tentang masyarakat tani dan pedagang lainnya yang sulit untuk saya ceritakan lewat kata kata untuk mengena di hati kalian para pembaca.

Intinya di sini, saya sangat kagum, terharu, dan terinspirasi dengan semangat mereka. Di daerah yang makmur seperti ini, namun sangat jauh dari jangkauan pemerintah untuk mengayomi dan membuat mereka lebih sejahtera dengan fasilitas dan infrastruktur yang baik (maaf melancong, eh melenceng). Dengan menjadi PS ini saya merasa bersyukur dapat berkesempatan berinteraksi dan lebih tau mengenai kehidupan masyarakat pra sejahtera secara langsung

Semoga suatu hari di masa depan, saya bisa “bertindak” untuk membantu masyarakat Indonesia. Amin :)

Namun, apakah kalian tau bagaimana medan yang kami tempuh sebagai PS untuk menyalurkan dana bantuan modal ini kepada ibu-ibu di kecamatan Candipuro ini? Kesan ini pun yang sangat ingin saya ceritakan, karena saya sangat kagum dengan teman teman saya yang terbilang senior dan loyal ini.

Kami para wanita tangguh harus melewati desa ke desa lainnya dengan melalui jalan yang sangat memprihatinkan, melalui medan yang konturnya luar biasa ektrim, baik turun bukit, kelokan tajam, panas terik, guyuran hujan, semua harus kami lalui untuk menghampiri sentra sentra tersebut (dengan kendaraan motor). Tidak jarang dari para wanita ini terjatuh karena jalan berlubang, jembatan atau jalan yang licin, atau jalan yang memang ektrim. Kehabisan bahan bakar saat berada d jalur yang jauh dari peradaban, di tengah hutan atau kebun. Sungguh mereka sangat luar biasa bisa bertahan seperti ini. Bahkan di area lain ada yang sampai melewati jembatan gantung dan area yang lebih ektrim dari area kami, Candipuro.

Setiap hari tidak kurang dari 3 sentra mereka datangi, belum lagi dengan kegiatan lain seperti survey dan pelatihan calon nasabah, follow up nasabah yang macet, input data di wisma. Sangat banyak kegiatan yang harus dikerjakan. Belum lagi jarak dari sentra ke sentra, calon nasabah ke calon nasabah, nasabah ke nasabah, desa ke wisma, harus menempuh jarak yang tidak dekat. Saya salut dengan mereka, mereka wanita yang sungguh tangguh dan loyal, rela bekerja keras demi mengabdi dan membantu ekonomi masyarakat di sini.

Mari kita lihat beberapa foto diam diam yang saya peroleh selama seminggu ini untuk mengetahui sedikit bagaimana medan kerjanya.



    


Dan masih banyak trek yang lebih ekstrim lagi yang belum saya capture.

Saya sangat terkesan dengan loyalitas PS, Wakil Manager Sentra*, dan Manager Sentra* (*pengelola para PS dan aliran keuangan) di sini, mereka sungguh tangguh mampu bekerja seperti ini dalam waktu yang lama dan begitu loyal dengan keadaan jauh dari peradaban dan penempatan kerja yang jauh dari tempat tinggal.

Ini dia rekan PS lainnya, mereka sehabis membeli hasil panen duku warga sekitar

Semoga ke depannya para PS ini mendapat kesejahteraan juga sesuai dengan usaha, tenaga, loyalitas mereka. Jujur saya tidak berfikir saya mampu menjalani ini dalam waktu yang lama, bukan saya materialistis atau perhitungan (coba kalian search gaji PS, banyak si kaskus dan web lainnya), saya hanya realistis dan tau batasan ketangguhan diri saya. Tapi saya sungguh tidak akan menyesal mengambil perkerjaan ini, karena dari pekerjaan ini saya memperoleh pelajaran hidup yang sangat berharga. Saya harus bisa lebih bersyukur, semangat, dan pantang menyerah, serta berjiwa besar

Untuk saat ini, mari saya jalani dulu semampu saya, selama masi ada banyak pelajaran yang bisa saya peroleh

Sungguh ini merupakan “hadiah” yang tepat bagi saya, terima kasih ya Allah.
Semoga hamba senantiasa bersyukur atas segala nikmat-Mu :’)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS